Pada Hari ini Kamis 2 April 2015,
Kali pertamanya ku kisahkan perjalanan setiap detik, menit dan jam yang ku lalui dalam hidup ini. Tepat nya saat ini saya berada di Bandar Udara Soekarno Hatta (Soetta) Cegkareng - Tangerang - Banten. Pukul 02.35 dini hari, sembari duduk di sebuah restaurant siap saji (fast food) di Red Corner bandara menikmati secangkir kopi hangat. Ya, kali ini aku hendak menunggu keberangkatan pesawat ke Surabaya pada pukul 05.00 wib. Pada hari ini aku ingin pulang kerumah di Bondowoso-Jatim, untuk bertemu dengan istri dan anak-anak ku tercinta.
Berbicara tentang restauran siap saji ini, teringat berbagai nama besar restauran serupa yang sudah menjamur di beberapa kota besar di negeri tercinta Indonesia ini. Sederetan nama restuaran itu seperti ; KFC, CFC, McDonald's, A&W, Pizza Hut, Dunkin Donuts, dll sudah terlalu sering dijumpai di Indonesia. Mc Donald's di Indonesia hingga saat ini sudah memiliki 112 gerai di seluruh Indonesia, dan laba internasionalnya pernah tercatat pada tahun 2012 membukukan pendapatan hingga 65,7 trilliun (www.selasar.com/gaya-hidup/5-restoran-cepat-saji-terbesar-di-indonesia). Berbeda dengan KFC, pertama kali masuk di Indonesia pada tahun 1978, hingga tercatat pada tahun 2012 mendapat keuntungan mencapai 2,6 trilliun. Sungguh fantastis melihat perkembangan restauran milik western itu, sementara angka tersebut jauh sekali jika dibandingkan dengan pencapaian pendapatan restauran pribumi Indonesia.
Perkembangan pesat dari restauran luar negeri diatas sangat ditentukan dengan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia khususnya perkotaan. Gaya hidup perkotaan yang menghendaki segala sesuatu nya menjadi lebih cepat, ringkas dan nyaman ini membuat masyarakat lebih memilih memenuhi kebutuhan perut nya di restauran fast food. Harga sudah tidak menjadi hal penting bagi mereka, selama mereka merasa terpenuhi dan dilayani dengan puas. Padahal sekali makan saja untuk satu orang, barusan saja saya merogoh kocek sekitar 75 ribu. Tampaknya masyarakat seperti sudah menjadi trend ketika makan di tempat seperti ini. hal itu sudah menjadi prestige bagi masyarakat perkotaan.
Realita perkembangan restauran kaum kapitalis tersebut harus dijadikan sebagai momentum bagi bangsa untuk terus berkarya dan berinovasi. Restauran atau rumah makan milik bangsa Indonesia tidak boleh kalah dan menyerah dengan asing. Kita harus berjuang untuk bersaing mendapatkan minat dan perhatian bangsa sendiri agar bangga membeli dan memenuhi kebutuhan makannya di restauran-restauran milik orang Indonesia sendiri.